Megah Namun Sunyi, Potret Stadion Ranggong Daeng Romo yang Perlahan Memudar di Takalar

Avatar of Gema Raya
IMG 20260730 082939
Ilustrasi

GEMARAYA, Takalar – Pagar besi yang membentang kokoh masih berdiri menyambut siapa pun yang melintas. Dari kejauhan, Stadion Ranggong Daeng Romo tampak gagah, seolah siap menjadi saksi riuh sorak penonton dan semangat para atlet muda. Namun ketika langkah kaki mendekat, suasana yang menyelimuti justru menghadirkan kesunyian yang sulit diabaikan.

Hamparan ilalang tumbuh di sejumlah sudut kawasan. Cat bangunan mulai kehilangan warna aslinya, sementara angin sesekali berembus pelan melewati tribun yang belum pernah benar-benar dipenuhi sorak penonton. Di tempat yang semestinya menjadi ruang tumbuh olahraga masyarakat, hanya terdengar suara dedaunan yang saling bergesekan, seakan mengisi kekosongan yang telah berlangsung cukup lama.

Stadion Ranggong Daeng Romo berdiri megah di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar. Bangunan yang menyandang nama pahlawan nasional itu sejak awal diharapkan menjadi pusat kegiatan olahraga sekaligus ruang berkumpul masyarakat. Namun hingga kini, stadion tersebut belum pernah digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan olahraga resmi.

Pemandangan di sekitar stadion menghadirkan kontras yang begitu terasa. Struktur bangunan masih tampak kokoh, tetapi halaman yang dipenuhi rerumputan liar memberi kesan bahwa waktu berjalan lebih cepat daripada aktivitas yang diharapkan hadir di sana. Beberapa bagian terlihat sepi tanpa jejak keramaian, sementara kursi-kursi tribun tetap menghadap lapangan yang belum menjadi panggung pertandingan.

Bagi warga sekitar, keberadaan Stadion Ranggong Daeng Romo menyimpan harapan yang belum sepenuhnya terwujud. Banyak yang membayangkan tempat ini menjadi ruang lahirnya bibit-bibit atlet, tempat anak-anak berlatih setiap sore, atau lokasi masyarakat berkumpul menikmati berbagai kegiatan olahraga.

“Sangat disayangkan, stadion ini tidak pernah digunakan. Padahal anak-anak muda di sini butuh tempat latihan yang layak,” ujar seorang warga Kelurahan Kalabbirang.

Warga lainnya memandang stadion ini bukan sekadar bangunan fisik. Nama besar Ranggong Daeng Romo yang melekat pada stadion dianggap membawa nilai sejarah dan semangat perjuangan yang patut terus dikenang melalui kebermanfaatan bagi masyarakat.

“Nama pahlawan itu besar. Harapannya tentu stadion ini bisa hidup dan dimanfaatkan sehingga masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya,” ungkap warga lainnya.

Di tengah berbagai harapan tersebut, bangunan yang diperkirakan bernilai miliaran rupiah itu masih berdiri sebagai salah satu potret fasilitas publik yang belum sepenuhnya menjalankan fungsi yang dicita-citakan. Bagi sebagian warga, kondisi ini menyisakan ruang untuk berharap bahwa suatu saat stadion akan benar-benar menjadi pusat pembinaan olahraga, tempat lahirnya prestasi, sekaligus ruang kebersamaan masyarakat Takalar.

Minimnya aktivitas di kawasan stadion juga membuat sebagian pemuda memilih berlatih di lapangan-lapangan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Meski semangat mereka tidak surut, kehadiran fasilitas olahraga yang representatif tentu menjadi harapan bersama demi mendukung pembinaan generasi muda.

Hingga tulisan ini disusun, belum terdapat informasi resmi mengenai waktu pemanfaatan penuh Stadion Ranggong Daeng Romo sebagai pusat kegiatan olahraga masyarakat.

Di balik bangunan yang masih berdiri megah itu, tersimpan harapan yang belum padam. Barangkali yang dinanti bukan sekadar dibukanya sebuah stadion, melainkan hadirnya kembali denyut kehidupan yang mampu menghidupkan ruang, menggerakkan mimpi anak-anak muda, dan memberi makna baru bagi nama besar yang terpahat di gerbangnya. Sebab, sebuah stadion akan benar-benar hidup ketika langkah kaki, tawa, dan semangat masyarakat akhirnya memenuhi setiap sudut yang hari ini masih diselimuti sunyi. (*)