Webometrics Juli 2026: Unismuh Makassar Peringkat 61 Nasional

GEMARAYA, Makassar – Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) mencatat capaian sebagai perguruan tinggi swasta (PTS) dengan posisi nasional tertinggi di kawasan Indonesia Timur dalam Webometrics Ranking edisi Juli 2026.

Dalam pemeringkatan tersebut, Unismuh Makassar menempati peringkat ke-61 nasional dan ke-1.646 dunia. Pada indikator yang digunakan, Unismuh berada di posisi 1.180 dunia untuk Impact, 4.631 untuk Openness, dan 1.711 untuk Excellence.

Posisi tersebut menempatkan Unismuh sebagai PTS dengan peringkat nasional tertinggi di kawasan yang mencakup Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, berdasarkan daftar perguruan tinggi Indonesia dalam pemeringkatan Juli 2026.

Di Makassar, Unismuh berada di posisi ketiga secara keseluruhan setelah dua perguruan tinggi negeri. Universitas Hasanuddin menempati peringkat ke-12 nasional, sedangkan Universitas Negeri Makassar berada di posisi ke-26 nasional

Rektor Unismuh Makassar Dr Abd Rakhim Nanda, MT, IPU mengatakan capaian tersebut patut disyukuri, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir.

Menurutnya, hal yang lebih penting adalah memastikan karya akademik universitas dapat ditemukan, dibaca, digunakan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun komunitas akademik.

“Alhamdulillah, capaian ini menjadi kabar yang menggembirakan bagi seluruh keluarga besar Unismuh. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana prestasi ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas karya akademik dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya, Selasa, 28 Juli 2026.

Rakhim mengatakan reputasi digital universitas perlu dibangun melalui karya akademik yang dapat diakses secara luas. Website institusi, repositori, jurnal ilmiah, serta berbagai platform akademik, menurutnya, perlu dikembangkan sebagai ruang penyebaran pengetahuan.

Ia menegaskan, penguatan reputasi digital tidak semestinya berhenti pada publikasi kegiatan seremonial.

Tiga Indikator WebometricsWebometrics Juli 2026 menggunakan tiga indikator utama, yakni Impact, Openness, dan Excellence.

Impact memiliki bobot 50 persen dan berkaitan dengan pengaruh atau visibilitas konten institusi melalui rujukan dari domain eksternal.

Openness berbobot 10 persen, sedangkan Excellence memiliki bobot 40 persen dan berkaitan dengan publikasi ilmiah yang masuk kelompok karya dengan sitasi tinggi.

Capaian Unismuh menunjukkan kekuatan relatif berada pada indikator Impact dengan posisi 1.180 dunia. Sementara itu, posisi Openness 4.631 dan Excellence 1.711 menunjukkan masih terdapat ruang penguatan pada keterbukaan serta pengaruh publikasi akademik.

Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Dr Burhanuddin, MSi mengatakan capaian Impact menunjukkan kehadiran digital Unismuh telah mendapatkan perhatian dan rujukan dari luar institusi.

Namun, menurut dia, visibilitas tersebut harus ditopang kualitas substansi akademik.

“Penguatan pemeringkatan internasional harus menjadi agenda bersama. Seluruh unit memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun ekosistem akademik yang berkualitas sekaligus meningkatkan visibilitas institusi,” katanya.

Burhanuddin menilai peningkatan reputasi universitas tidak dapat dibebankan hanya kepada unit teknologi informasi maupun humas.

Fakultas, program studi, lembaga penelitian, pengelola jurnal, perpustakaan, dosen, dan mahasiswa turut memiliki peran dalam membangun jejak akademik universitas.

Ketua Unismuh Global Excellence Center (UGEC), Prof Hartono Bancong, PhD, mengatakan hasil Webometrics perlu dibaca sebagai instrumen evaluasi untuk melihat kekuatan dan ruang perbaikan institusi.

Menurutnya, posisi Impact menjadi salah satu kekuatan Unismuh. Namun, indikator Excellence masih perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas dan pengaruh publikasi ilmiah.

“Adapun indikator Excellence menuntut peningkatan publikasi berkualitas dan berpengaruh. Tantangannya bukan hanya menambah jumlah artikel, tetapi mendorong penelitian yang kuat secara metodologis, relevan dengan persoalan masyarakat, diterbitkan pada jurnal bereputasi, dan memiliki peluang lebih besar untuk disitasi,” katanya.

Hartono mengatakan peningkatan kualitas penelitian juga perlu dibarengi penguatan kolaborasi, profil peneliti, repositori institusi, serta keterlacakan karya akademik.

Dengan demikian, capaian Webometrics tidak hanya dipandang sebagai posisi dalam tabel pemeringkatan, tetapi juga sebagai gambaran mengenai bagaimana pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi hadir dan berpengaruh di ruang digital.