GEMARAYA, Polewali Mandar – Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Polewali Mandar mencatat dua kejadian dengan luas terdampak lebih dari 20 hektare. Kebakaran terjadi di kawasan Desa Pallis-Tamanggalle, Kecamatan Balanipa, serta Desa Baru, Kecamatan Luyo.
Kebakaran di Dusun Tondo, Desa Pallis, yang kemudian meluas ke Dusun Panuttungan, Desa Tamanggalle, terjadi pada 22 Agustus 2026. Hasil pendataan dan pemetaan geospasial mencatat luas lahan terdampak mencapai 22 hektare, dari perkiraan awal sekitar 5 hektare.
Kejadian lainnya berlangsung di Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru, Kecamatan Luyo, pada 2 September 2026. Hasil investigasi dan pendataan pascakebakaran pada 3 September mencatat luas lahan terdampak mencapai 20,88 hektare.
Dengan demikian, dua kejadian tersebut berdampak pada total 42,88 hektare lahan. Data yang tersedia untuk periode 1 Januari hingga 3 September 2026 juga mencatat 49 kejadian karhutla dan 24 kejadian kebakaran permukiman atau gedung, dengan total lahan atau kebun terdampak 92,91 hektare.
Di Desa Pallis, rekapitulasi mencatat sedikitnya tujuh kejadian karhutla pada periode 5 Juli hingga 25 Agustus 2026. Enam kejadian yang memiliki data luasan menghasilkan akumulasi sedikitnya 36 hektare, sedangkan satu kejadian pada 9 Agustus belum mencantumkan luas terdampak sehingga total aktual berpotensi lebih besar.
Penanganan kebakaran di Pallis-Tamanggalle melibatkan dua armada Damkar Polman dari Pos Tinambung dan Pos Campalagian. Sementara kebakaran di Desa Baru ditangani lima armada, termasuk bantuan tangki air TNI Yon TP Keris Muda Mandar, dengan kondisi bahan bakar kering menjadi salah satu kendala pemadaman.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, mengatakan luas kebakaran tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama saat kemarau. Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan titik api agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.
Di Desa Baru, kebakaran mengenai lahan perkebunan produktif yang dikelola masyarakat, termasuk tanaman sawit, pohon produktif, dan bibit tanaman. Satgas Karhutla bersama pemerintah desa melakukan pemetaan, dokumentasi, serta verifikasi untuk mencatat luas terdampak dan estimasi kerugian secara tepat, sementara masyarakat diminta tidak meninggalkan api di lahan kering dan segera melapor jika melihat asap atau titik api.







