GEMARAYA – Pada 1921, Tan Malaka datang ke Semarang setelah sebelumnya mengajar anak-anak kuli kontrak di perkebunan Deli. Pengalaman di Deli memperkuat perhatiannya terhadap pendidikan yang menurutnya harus disesuaikan dengan kebutuhan rakyat, bukan sekadar mengikuti sistem pendidikan kolonial.
Pertemuannya dengan sejumlah pemimpin Sarekat Islam dalam Kongres SI di Yogyakarta pada 1921 kemudian mempertemukannya dengan rencana pendirian sekolah di Semarang. Dalam rapat SI Semarang pada Maret 1921, rencana sekolah tersebut disepakati dan Tan Malaka kemudian dipercaya memimpinnya.
Sekolah Sarekat Islam Semarang resmi dibuka pada 21 Juni 1921 dengan sekitar 50 murid dan menggunakan ruang rapat SI Semarang sebagai tempat belajar. Sekolah itu ditujukan antara lain bagi anak-anak anggota SI, terutama mereka yang sulit memperoleh akses ke sekolah pemerintah kolonial.
Tan Malaka kemudian menuangkan gagasan pendidikannya dalam SI Semarang dan Onderwijs pada 1921. Dalam konsep tersebut, pelajaran seperti berhitung, menulis, ilmu bumi, serta bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa diberikan sebagai bekal kehidupan, sementara murid juga didorong membentuk perkumpulan dan memahami kewajiban mereka terhadap masyarakat.
Sekolah itu tidak berhenti pada pendidikan dasar karena pada awal 1922 mulai dikembangkan pendidikan kejuruan. Pendidikan guru juga diberikan secara langsung oleh Tan Malaka untuk menyiapkan tenaga pengajar bagi sekolah-sekolah Sarekat Islam.
Perkembangan sekolah tersebut berlangsung dalam suasana pengawasan pemerintah kolonial terhadap aktivitas Sarekat Islam Semarang. Penelitian sejarah mencatat adanya keberatan dari aparat kolonial terhadap keberadaan sekolah itu, sementara dukungan masyarakat ikut membantu keberlangsungan pendidikannya.
Bagi Tan Malaka, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga dengan pembentukan kesadaran serta kemampuan murid untuk hidup dan berorganisasi.
Gagasan itu membuat Sekolah Sarekat Islam Semarang menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah pendidikan rakyat pada awal abad ke-20.
Perjalanan Tan Malaka kemudian berlanjut ke dunia politik dan perjuangan kemerdekaan, hingga ia tewas di Selopanggung, Kediri, pada 21 Februari 1949.
Jejaknya di Semarang tetap penting dibaca sebagai bagian dari sejarah ketika pendidikan digunakan untuk memperluas akses belajar sekaligus membentuk kesadaran masyarakat bumiputra. [*]







