Daerah  

Jika Stok BBM Aman, Mengapa Takalar Masih Mengantre?

Antrean panjang kendaraan di SPBU Kabupaten Takalar di tengah pernyataan stok BBM aman.
Muhammad Yusuf Daeng Manya’la, penulis opini.

Opini | Oleh: Muhammad Yusuf Daeng Manya’la

GEMARAYA, Takalar – Antrean panjang di SPBU masih menjadi pemandangan di Takalar. Siang, malam, hingga dini hari, kendaraan mengular dan masyarakat harus menunggu lama untuk mendapatkan BBM.

Di tengah kondisi itu, satu kalimat terus terdengar: stok BBM aman.

“Stok aman” adalah bahasa data. Antrean panjang adalah bahasa realitas. Keduanya mungkin benar. Namun, jika berlangsung bersamaan dalam waktu lama, publik wajar bertanya: jika stok aman, mengapa masyarakat masih harus mengantre?

Menurut saya, persoalannya belum tentu sekadar kekurangan stok. Bisa jadi ada masalah pada distribusi, alokasi, kapasitas pelayanan SPBU, atau pengawasan penyaluran.

Informasi yang disampaikan pemerintah daerah juga menunjukkan adanya persoalan di tingkat pelayanan. Bupati Takalar meminta seluruh nozzle diaktifkan dan petugas ditambah. Dalam peninjauan yang diberitakan sebelumnya, disebut pula ada nozzle yang tidak berfungsi.

Jika demikian, persoalannya tidak cukup dijawab dengan kalimat “stok aman”. Publik perlu mengetahui berapa pasokan yang masuk, berapa alokasi setiap SPBU, berapa realisasinya, dan apakah distribusi berjalan sesuai kebutuhan.

Begitu pula dengan istilah panic buying. Bisa saja peningkatan permintaan menjadi salah satu faktor. Namun, tanpa data, jangan menjadikannya sebagai kesimpulan.

Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman telah melakukan peninjauan dan membentuk satgas pengawasan BBM dan LPG.

Bupati Takalar juga telah bertemu Pertamina dan turun melihat kondisi lapangan.Langkah tersebut patut diapresiasi. Tetapi masyarakat berhak bertanya: setelah sidak, lalu apa?

Jika masalahnya distribusi, di mana hambatannya? Jika ada sarana yang tidak berfungsi, kapan diperbaiki? Jika alokasi tidak mencukupi, kapan dievaluasi?

Di sisi lain, fungsi pengawasan legislatif juga penting. DPRD dapat meminta data alokasi dan realisasi penyaluran setiap SPBU serta meminta penjelasan pihak terkait secara terbuka.

Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan perdebatan panjang mengenai istilah “langka” atau “tidak langka”. Mereka membutuhkan BBM, pelayanan yang wajar, dan kepastian.

Buka datanya. Telusuri alirannya. Pastikan subsidi tepat sasaran.

Sebab, kalimat “stok aman” tidak mengisi tangki kendaraan yang kosong.

Jika benar stok BBM aman, ada satu bukti paling sederhana:

buatlah masyarakat berhenti mengantre. [*]