GEMARAYA, Takalar – Lapangan Kelurahan Maradekaya, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, berubah menjadi panggung sejarah. Ribuan masyarakat memadati lokasi untuk menyaksikan pertunjukan Mutilog “Tu Polongbangkeng”, sebuah pagelaran budaya yang membawa kembali kisah perjuangan para tokoh Polongbangkeng ke hadapan masyarakat.
Bukan sekadar pertunjukan seni, “Tu Polongbangkeng” menjadi ruang pertemuan antara sejarah, budaya, dan ingatan keluarga para pejuang. Kisah yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi kembali dihidupkan melalui perpaduan musik tradisional, tari, dan seni pertunjukan kolosal.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak rangkaian acara dimulai. Ribuan penonton memenuhi area Lapangan Kelurahan Maradekaya dan mengikuti setiap rangkaian pertunjukan dengan penuh perhatian.
Pertunjukan dibuka dengan penampilan alat musik tradisional Dangngong, kemudian dilanjutkan dengan Paddeko yang menggambarkan semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat.
Suasana semakin meriah dengan hadirnya Sinrilik, Tari Lammang,Tari Attapi, Tari Pakarena dan Gandrang Bulo . Berbagai kesenian tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kekayaan budaya Takalar dalam satu panggung.
Namun, suasana berubah semakin khidmat ketika pertunjukan memasuki bagian puncak.
Tokoh-tokoh Tu Polongbangkeng dihadirkan melalui Mutilog, membawa penonton menyusuri kembali kisah perjuangan para pendahulu. Puncaknya, suasana semakin menggetarkan ketika pembacaan Proklamasi Polongbangkeng dipentaskan bersamaan dengan pengibaran bendera Merah Putih dan Panji Lipang Bajeng.
Momen tersebut seolah membawa penonton kembali pada sejarah perjuangan Polongbangkeng yang pernah mencatat pembacaan Proklamasi pada 1950 oleh Makkaraeng Daeng Mandjarungi.
Bagi sebagian penonton, adegan tersebut bukan sekadar bagian dari pertunjukan. Ada rasa haru ketika sejarah yang selama ini hanya dikenal melalui cerita kembali hadir di depan mata.
“Hati saya bergetar. Saya tidak sadar air mata saya jatuh menetes melihat pertunjukan ini. Apalagi saat puncak acara, ketika pembacaan Proklamasi Polongbangkeng dan pengibaran bendera Merah Putih serta Panji Lipang Bajeng ditampilkan. Rasanya seperti melihat kembali sejarah perjuangan para pendahulu kita.”
“Apalagi proklamasi itu mengingatkan kita pada sejarah yang pernah dibacakan pada tahun 1950 di Polongbangkeng oleh Makkaraeng Daeng Mandjarungi. Bagi saya, ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah penghormatan kepada para pejuang dan sejarah daerah kita,” ujar salah seorang penonton yang hadir.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam pertunjukan. Di tengah ribuan penonton, sejarah tidak hanya disaksikan sebagai sebuah adegan, tetapi juga membangkitkan kembali rasa bangga dan haru terhadap perjuangan para pendahulu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Takalar, Mantan Wakil Bupati Takalar, Lurah Maradekaya, Anggota DPRD, Keturunan Pahlawan Nasional Karaeng Polongbangkeng Padjonga Daeng Ngalle, Keluarga Pahlawan Nasional Ranggong Daeng Romo, serta keturunan sejumlah tokoh pejuang Polongbangkeng.
Kehadiran keluarga besar para pejuang memberikan makna tersendiri bagi pelaksanaan pertunjukan. Mereka menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan sejarah sekaligus memastikan kisah perjuangan para pendahulu tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Ketua Laskar Lipang Bajeng menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.
“Terima kasih kami ucapkan kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana LPDP dan semua pihak yang mendukung acara ini. Terima kasih juga kepada keluarga besar Tu Polongbangkeng dan seluruh masyarakat Kabupaten Takalar,”ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya bangga dapat mengangkat kisah perjuangan Tu Polongbangkeng melalui seni pertunjukan.
“Kami sangat bangga mengangkat kisah perjuangan seperti ini. Tu Polongbangkeng bukan sekadar pertunjukan. Ini adalah upaya untuk menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang sejarah, perjuangan, identitas, dan kebanggaan masyarakat Polongbangkeng,” katanya.
Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi cara untuk mendekatkan sejarah kepada generasi muda. Sejarah tidak hanya disampaikan melalui buku atau cerita, tetapi dihadirkan melalui seni yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan secara langsung.
Salah Seorang Penonton menyampaikan pesan dan kesan di akhir acara bahwa momentum ini adalah sebuah pertemuan dan silaturahmi, Kekuatan Tu Polongbangkeng sudah di perlihatkan melalui acara ini dan sebagai generasi Tu Polongbangkeng jangan terlalu lemah mau terpecah belah
Antusiasme ribuan penonton menjadi bukti bahwa sejarah lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.
Malam itu, Kelurahan Maradekaya menjadi saksi perjuangan Tu Polongbangkeng kembali hidup dihadapan ribuan mata. Tempat itu menjadi ruang pertemuan antara masala lalu dan masa kini.
“Tu Polongbangkeng” bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah ingatan kolektif yang kembali dinyalakan melalui seni-agar perjuangan para pendahulu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.







