TOAMI RAMANG: Ketika Nama Sang Legenda Menjelma Menjadi Ungkapan yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat Bugis-Makassar

Takalar, GEMARAYA – “Toami Ramang.” Ungkapan itu hingga kini masih sering terdengar di berbagai wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Kalimat tersebut lazim diucapkan ketika melihat seseorang yang dahulu dikenal kuat, tangguh, dan lincah, tetapi seiring bertambahnya usia mulai kehilangan tenaga dan tidak lagi mampu beraktivitas sekuat masa mudanya.

Tidak sedikit yang mengucapkannya. Namun, tak banyak pula yang mengetahui kisah besar di balik dua kata tersebut.Dalam tradisi lisan masyarakat Bugis-Makassar, “Toami Ramang” diyakini lahir dari sosok Andi Ramang, legenda sepak bola Indonesia yang pada masa mudanya dikenal memiliki stamina luar biasa, kecepatan, kelincahan, dan tendangan keras yang membuat lawan-lawannya gentar.

Beberapa sumber serta penuturan sejumlah tokoh masyarakat menyebutkan, ungkapan itu mulai dikenal ketika Ramang memasuki penghujung kariernya. Faktor usia membuat kemampuan fisiknya perlahan menurun. Dari sanalah, menurut tradisi tutur yang berkembang di tengah masyarakat, nama Ramang kemudian digunakan sebagai sebuah perumpamaan bagi seseorang yang tidak lagi sekuat masa mudanya.

Meski demikian, asal-usul istilah tersebut lebih banyak hidup dalam ingatan kolektif masyarakat daripada dalam dokumentasi sejarah tertulis. Karena itu, ungkapan “Toami Ramang” dipahami sebagai bagian dari warisan budaya tutur masyarakat Bugis-Makassar.

Padahal, pada masa kejayaannya, Ramang merupakan salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Bersama PSM Makassar dan Tim Nasional Indonesia, ia menjadi simbol kejayaan sepak bola nasional pada era 1950-an. Aksinya di lapangan bahkan mendapat pengakuan internasional dan dikenang sebagai salah satu pemain paling disegani di Asia pada masanya.

Namun, sebagaimana perjalanan hidup setiap manusia, usia akhirnya menggerus kekuatan fisiknya. Ramang mengakhiri karier profesionalnya bersama PSM Makassar pada 1968 setelah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk sepak bola.

Selepas gantung sepatu, ia tidak meninggalkan dunia yang telah membesarkan namanya. Ramang memilih menjadi pelatih bagi anak-anak dan tim-tim lokal, membagikan pengalaman dan kecintaannya kepada generasi muda.

Sayangnya, pengabdian itu tidak diiringi kehidupan yang sejahtera.Beberapa sumber mencatat, pada 1981 Ramang jatuh sakit setelah pulang melatih dalam kondisi kehujanan.

Penyakit paru-paru yang dideritanya membuat kesehatannya terus menurun selama bertahun-tahun. Di tengah keterbatasan ekonomi, legenda yang pernah mengharumkan nama Indonesia itu menjalani hari-hari terakhirnya dengan kehidupan yang sangat sederhana.

Pada 26 September 1987, Ramang mengembuskan napas terakhirnya. Ia pergi tanpa kemewahan, tetapi meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi sepak bola Indonesia.

Ironisnya, ketika perjalanan hidupnya berakhir dalam kesederhanaan, namanya justru terus hidup di tengah masyarakat.

Hingga hari ini, ungkapan “Toami Ramang” masih diucapkan dari generasi ke generasi. Bukan sebagai bentuk ejekan, melainkan sebagai pengingat bahwa sehebat apa pun seseorang pada masa mudanya, waktu akan tetap berjalan dan usia akan membawa perubahan.

Ramang mungkin telah tiada. Namun, namanya tidak hanya tercatat dalam sejarah sepak bola Indonesia, melainkan juga hidup dalam bahasa, budaya, dan ingatan kolektif masyarakat Bugis-Makassar.Itulah keabadian seorang legenda. Ketika prestasinya dikenang sejarah, sementara namanya terus diucapkan oleh masyarakat, bahkan puluhan tahun setelah ia menutup mata.