Takalar, GEMARAYA – Sebuah kabar menggembirakan hadir bagi masyarakat Takalar dan keluarga besar Polongbangkeng. Program kebudayaan “Manifestasi Kejayaan Sejarah dan Peradaban Tu Polongbangkeng” akan digelar pada Agustus 2026 oleh Lipang Bajeng, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Indonesiana, Dana Indonesiana, dan LPDP.
Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai peradaban Polongbangkeng yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Takalar dan Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat Polongbangkeng, program tersebut bukan sekadar agenda kebudayaan. “Tu Polongbangkeng” hadir sebagai ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai keberanian, persatuan, kehormatan, dan pengabdian kepada generasi penerus.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, banyak jejak sejarah lokal yang perlahan terlupakan. Karena itu, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk kembali mengenalkan generasi muda pada akar jati dirinya. Bahwa Polongbangkeng bukan sekadar nama wilayah, melainkan tanah yang menyimpan kisah perjuangan, kebesaran budaya, dan warisan peradaban yang patut dijaga.
Melalui berbagai kegiatan kebudayaan, seni, dokumentasi sejarah, dan keterlibatan masyarakat, “Tu Polongbangkeng” diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur. Program ini juga menjadi bagian dari upaya merawat sejarah agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan terus hidup sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan masa depan.
Kehadiran program tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan karena dinilai mampu mengangkat kembali nama Polongbangkeng sebagai salah satu kawasan yang memiliki nilai historis dan budaya yang kuat di Sulawesi Selatan.
Agustus 2026 nanti, yang akan hadir bukan hanya sebuah perhelatan budaya, melainkan sebuah pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang selama masih ada generasi yang bersedia merawat dan mewariskannya.
Sebab raga boleh larut dalam sejarah, namun bara Tu Polongbangkeng menolak padam.
“Tu Polongbangkeng, Menghidupkan Jejak Leluhur, Menyalakan Cahaya Peradaban.”







