Kepemimpinan Noto Atine dan Pelajaran dari Muktamar NU

Ilustrasi filosofi kepemimpinan noto atine setelah Muktamar NU ke-35 di Jombang.
Ilustrasi editorial tentang filosofi noto atine sebagai refleksi kepemimpinan setelah Muktamar ke-35 NU di Jombang.

GEMARAYA, Jakarta – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang telah menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU masa khidmah 2026–2031. Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, ada satu pertanyaan yang tetap relevan: apakah seorang pemimpin mampu menata dirinya sebelum menata orang lain?

Pertanyaan itu mengingatkan pada nasihat KH Hasan Abdullah Sahal tentang empat tingkatan noto atine, yakni menata hati sendiri, menata hati orang lain, menata hati orang yang lebih tua, dan menata hati mereka yang sedang berselisih. Nasihat tersebut kembali dikutip dalam sejumlah tulisan tentang kepemimpinan dan Gontor, termasuk menjelang momentum satu abad pesantren tersebut.

Menurut saya, inti dari filosofi itu sederhana tetapi berat: kepemimpinan bukan semata tentang menguasai, melainkan tentang kemampuan menata hati dan membangun hubungan yang sehat. Dalam kerangka ini, jabatan bukanlah tujuan akhir, karena ukuran kepemimpinan justru terlihat dari kemampuan seseorang mengendalikan diri dan menghadirkan ketenangan bagi orang lain.

Tingkatan pertama, noto atine dewe, menjadi fondasi yang paling mendasar. Seorang pemimpin akan sulit menenangkan orang lain jika dirinya sendiri tidak mampu mengelola emosi, ambisi, ketakutan, dan kepentingan pribadi.

Gagasan tersebut memiliki titik temu dengan konsep kecerdasan emosional Daniel Goleman yang menempatkan self-awareness dan self-management sebagai bagian penting dari kemampuan emosional. Keduanya berkaitan dengan kemampuan memahami keadaan diri serta mengelola emosi dan perilaku agar seseorang dapat bertindak secara lebih efektif.

Tingkatan berikutnya mengingatkan bahwa memimpin juga berarti membangun relasi secara sehat, baik dengan orang yang dipimpin maupun dengan mereka yang lebih senior. Pemimpin yang baik tidak perlu menakuti bawahan, tetapi juga tidak seharusnya kehilangan prinsip hanya demi menyenangkan pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar.

Puncaknya adalah noto atine wong sing luwih tuwek sing lagi tukaran, yakni kemampuan menata hati orang-orang yang lebih tua dan sedang berselisih. Dalam kehidupan organisasi, kemampuan menjadi penengah semacam ini menjadi penting ketika perbedaan kepentingan berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Karena itu, filosofi noto atine layak dibaca sebagai etika kepemimpinan yang melampaui momentum Muktamar NU ke-35. Dari Jombang, pelajarannya sederhana: kualitas pemimpin tidak hanya dapat dilihat dari seberapa luas kekuasaannya, tetapi juga dari seberapa mampu ia menata dirinya, merawat hubungan, dan mendamaikan mereka yang berselisih. [*]